Lanjut ke konten

Susunan Raja Sumenep

September 11, 2009

Raja yang paling populer antara raja-raja yan memimpinsumenep adalah aria wiraraja yang juga sebagai pendirinyaraja sumenep

raja sumenep

Pantai Camplong

September 9, 2009

Pantai CamplongTempat wisata yang terletak sekitar 10 km timur Kota Sampang itu telah dilengkapi pondok wisata dengan 16 kamar VIP dan rumah makan.
Ongkos sewa kamar pondok wisata di Camplong berkisar Rp 25 wisata-Rp
50 ribu untuk tempat tidur tunggal. Sedangkan untuk tempat tidur ganda
berkisar Rp 28,5-Rp 55 ribu.
Taman wisata Camplong yang dikelola Surabaya Inn Group ini juga
dilengkapi kolam renang, dan tempat bermain anak-anak. Di sana
wisatawan juga bisa belanja suvenir serta kudapan dan minuman yang
disediakan pedagang.
Untuk menuju ke objek wisata ini pengunjung tidak terlalu sulit,
karena letaknya berada di jalur utama Madura. Wisatawan bisa menumpang kendaraan umum Sampang-Pamekasan atau berasyik-asyik naik “dokar” (kereta kuda).
Ongkos naik mobil penumpang umum (MPU) dari Sampang Rp 500,00 dan
dokar Rp 3.000,00.

Minimnya pendapatan dari subsektor pariwisata ini juga dialami Kab.
Sampang, yakni hanya Rp 9 juta/tahun. Pendapatan itu diperoleh dari
retribusi masuk kawasan wisata Pantai Camplong. Padahal untuk
membangun objek ini pemda setempat telah mengeluarkan dana Rp 250
juta.
“Objek wisata di Madura sebenarnya banyak tapi kondisinya belum
marak,” kata Bupati Sampang, H Fadhilah Budiono, ketika menerima
peserta Wisata Pers 1996 di peringgitan pendapa Kab. Sampang, Jumat
lalu.

Kuburan Aermata

September 9, 2009

Kuburan AermataPasarean Aermata atau Makam Ratu Ibu, demikian penduduk Madura menyebut situs bersejarah yang berada di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan ini.

Sejak ratusan tahun silam, Aermata tak hanya populer karena keunikan seni arsitekturnya, tetapi juga karena kadar kekeramatannya. Itu sebabnya, Pasarean Aermata tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah.

Terlebih di saat-saat tertentu, seperti pada malam jum’at legi, jum’at wage, bulan suro, saat malam ganjil di bulan Ramadhan, atau syawal jumlah pengunjung di kompleks makam itu meledak bukan kepalang. Bila dihitung secara kasar jumlahnya bisa mencapai ribuan orang peziarah.

Peziarah datang tak hanya dari Madura saja, juga ada yang datang dari luar kota bahkan sampai luar negeri. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk luar negerinya berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan bahkan Bangladesh.

Kompleks kuburan kuno itu terhampar kokoh di puncak bukit kecil berketinggian sekitar 30 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena itu pula saat kita berkunjung ke sana, mencapai makam itu terlebih dulu harus menaiki puluhan anak tangga agar sampai di Pasarean Aermata.

Sampai di atas kompleks makam, kita akan menjumpai pagar batu andelis warna putih yang mengitari makam, batu-batu itu disusun rapi, tanpa menggunakan perekat semen bak bangunan candi-candi tua di Pulau Jawa. Ada enam cungkup ukuran besar, sedang, dan kecil berdiri tegar di bagian tengahnya. Desain arsitekturnya yang unik tak hanya menawarkan keelokan situs karya seni yang antik, namun juga menyiratkan nuansa sakral dan juga magis.

Aroma keunikan dan daya tarik dari Pasarean itu berada pada tokoh yang dimakamkan di sana. Yaitu para Raja Madura Barat dari abad ke-16 sampai abad ke-19. Jelasnya, di balik deretan tiga cungkup utama, berbaring jasad raja-raja dari Keraton Plakaran, Bangkalan, yang hidup pada era pemerintahan Dinasti Panembahan Cakraningrat alias Raden Praseno, hingga tujuh turunan.

Para raja itu diantaranya adalah kuburan Panembahan Cakraningrat II alias Raden Undakan (1648-1770), Panembahan Cakraadiningrat V alias Raden Sidomukti (1646-1770), Panembahan Cakradiningrat VI alias Raden Tumenggung Mangkudiningrat (1770-1780), dan Sultan Cakraadiningrat I alias Raden Abdurahman (1780-1815). Tiga penguasa Keraton Bangkalan (Kerajaan Plakaran) lainnya, yakni Panembahan Cakraningrat I alias Raden Praseno (1624-1648), serta Panembahan Cakraningrat III alias Pangeran Suroadingrat (1707-1718).

Selain terdapat makam para raja Madura. Daya tarik lainnya ada pada motif dan ukiran unik yang ada di perabotan makam. Yaitu susunan batu andelis pada pintu gerbang kedua, cungkup peringgitan tempat menerima tamu peziarah, cungkup tempat penyimpanan senjata dan sisa perabotan peninggalan kerajaan, cungkup para juru kunci, serta tiga cungkup utama tempat bersemayamnya jasad para raja. Demikian pula aksesori hiasan memolo dan kemuncak yang bertebaran di puncak atap masing-masing cungkup.

Rumit memang, pemahaman kita terhadap konfigurasi seni ukir yang ada di kompleks makam. Apalagi di balik konfigurasi seni ukir itu tersimpan simbol misteri yang melambangkan kerukunan antar umat dari tiga agama yang berkembang pada saat itu, yakni Islam, Buddha, dan Hindu. Jika peziarah teliti, simbol kerukunan itu, meski samar, nampak terlihat transparan, sebab di antara hamparan ragam bentuk seni ukir itu, tersisip ukiran bunga teratai yang menyimbolkan ajaran Budha, miniatur Ganesha sebagai simbol Hindu, serta ukiran kaligrafi sebagai simbol Islam. Ketiganya saling bertaut menggambarkan sebuah cerita kerukunan antar umat di Madura pada dulu kala.

Karena itulah sejak masa pemerintahan Panembahan Cakraningrat I pada lima abad yang silam, ajaran tentang pentingnya kerukunan antar umat beragama sangat ditekankan. Khususnya di daerah Bangkalan, Madura.

Sayangnya, ajaran kebaikan tentang keagamaan dan falsafah yang ada di balik keunikan dan kemisterian Pesarean Aermata tak banyak orang tahu. Hal ini dapat dilihat dari datangnya para peziarah yang kebanyakan dari daerah luar Madura dan Pulau Jawa. Inilah tantangan yang harus segera dijawab oleh pemerintahan setempat bekerjasama dengan masyarakat dan para ahli sejarah, untuk terus berupaya maksimal menggali dan menyebarluaskan informasi sejarah yang ada di negeri ini. Seperti sejarah Aermata sendiri.

Sapi Sonok Madura

September 9, 2009

sapi sonok maduraPamekasan – Pulau Madura, bagian Provinsi Jawa Timur terkenal memiliki keunikan budaya. Dimana sapi menjadi bagian tradisi mereka. Sapi jadi hewan kebanggaan yang dipamerkan dalam acara tahunan.

Selain karapan sapi yang terkenal, ada sebuah acara khusus bagi sapi betina yang didandani bak ratu kecantikan. Ajang itu adalah festival Sapi Sonok kesanalah perjalanan kami sekarang.Kabupaten Pamekasan akan menyelenggarakan acara yang mempertemukan sapi-sapi Sonok unggulan se Madura. Festival ini biasanya mengawali acara pesta rakyat karapan sapi.

Sapi Sonok MaduraPerjalanan menuju Pulau Madura dari Ibukota Jakarta kali ini kami lalui lewat darat. Memang meletihkan. Jarak yang harus ditempuh hampir 1000 kilometer. Namun suasana perjalanan cukup menyenangkan. Karena kondisi jalan lintas selatan menyuguhkan keindahan alam tersendiri.Setiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kami harus menggunakan kapal penyebrangan untuk menuju ke Pulau Madura. Hanya memakan waktu 30 menit untuk menyebrang. Namun masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai di Kabupaten Pamekasan.

Persiapan mengikuti kontes Sapi Sonok sudah terasa dikediaman Haji Zaenudin yang berdiam di wilayah Waru Barat, Kabupaten Pamekasan. Walau kontes tingkat kabupaten sudah sering diikutinya, tapi untuk kontes yang akan berlangsung besok berbeda. Karena besok pesertanya adalah para pemenang di tingkat kabupaten se Madura. Seperti perlakuan istimewa terhadap sapi jantan karapan demikian juga sapi-sapi betina ini diperlakukan. Yang akan bertanding besok adalah Den Ayu dan Titisan Air Mata. Jangan salah, itu bukan nama dua ekor sapi, tapi untuk dua pasang sapi.

Anggapannya, satu pasang sapi yang terdiri dari dua ekor ini bisa tidak kompak bila masing-masing punya nama sendiri. Sapi Sonok andalan milik Haji Zaenudin antara lain adalah Titisan Air Mata.Berbagai penghargaan sebagai sapi terindah sudah sering diterima sang sapi yang kini berusia 5 tahun. Dengan bobot tubuh rata-rata 6 kuwintal, sapi-sapi betina ini tampak bersih dan molek.Untuk kandang pun mereka mendapat tempat khusus. Bahkan musik kas madura sronen selalu diperdengarkan melalui tape rekorder. Perawat juga disediakan untuk bertugas menjaga kebersihan tubuh sapi, kandang dan makanan mereka.

Sapi Sonok MaduraSupaya terlihat menawan, tanduk sapi juga mendapat perhatian. Biar mengkilat harus sering disemir. Begitu pula bulu mata hingga seluruh tubuh harus dibersihkan dan dirapikan.

Sapi-sapi ini tidak hanya dimanjakan dengan perawatan. Mereka juga harus rajin latihan. Sapi Sonok milik Haji Zaenudin dilatih oleh Salawi, mantan jaga karapan.

Pelatih yang sering juga disebut pawang ini mengajarkan cara berjalan dan cara menjejakan kaki depan keatas sebuah kayu. Inilah sebabnya mengapa diberi nama Sapi Sonok. Yang berasal dari bahasa Madura Sokonah Nungkok atau kakinya naik. Hal ini menjadi penilaian penting dalam kontes nanti.
Hanya sapi yang terlatih yang bisa menaikkan kaki ke atas kayu, sehingga tampak rapi dan anggun. Kaki sapi yang tepat meletakkan kaki diatas papan tanpa meleset mendapat nilai yang tinggi.

Hari ini Haji Zaenudin tampak puas. Sapi kesayangannya berlatih dengan baik. Ia percaya sang Titisan Air Mata akan tampil tidak mengecewakan dalam kontes besok.

Mendandani Sapi

Hari ini di Halaman Eks Karesidenan Pamekasan, Madura sudah mulai ramai. Sebanyak 24 pasang sapi betina pemenang di tingkat Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan, akan ikut kontes Sapi Sonok.

Truk-truk pengangkut sapi seperti tak ada hentinya berdatangan. Yang mengiringinya pun banyak. Maklum, selain pawang dan para asistennya, sang pemilik juga biasanya mengajak rombongan kesenian kas Madura Sronen. Dengan musik ini diharapkan sapi-sapi akan berlengak lengok anggun.

Setelah turun dari truk, kesibukan langsung terasa ditiap rombongan. Layaknya ratu kecantikan, pasangan sapi betina didandani dengan pernak pernik perhiasan. Ada perangkat perhiasan untuk penutup leher, penghias kepala bahkan untuk tanduk.Sapi Sonok MaduraPerhiasan yang dipakai untuk mendandani sang kontestan ini umumnya mahal harganya. Bisa jutaan rupiah karena sebagian terbuat dari emas.

Sementara sang sapi dihias, para pemusik sronen juga seperti tidak mau kalah. Selain mengenakan pakaian tradisional, para pemain sronen tidak ketinggalan beraksi dengan memakai kacamata hitam dan kaos kaki. Umumnya para pemusik sronen ini terdiri dari 2 pemain trompet, pemain kenong, kendang dan pemain gong serta kencer.

Seperti seorang model yang demam panggung saat hendak kontes, hal ini juga dialami oleh sapi betina yang bernama Liga 2005 ini. Tubuhnya selalu bergerak seolah bisa.Sehingga sang pawang akhirnya memijat lidah si Liga 2005 ini dengan minyak kelapa dan memberinya makan. Menurut sang pawang, sapi betina ini belum mengenal medan. Karena baru pertama kali iku dalam ajang sebesar ini.

Peserta yang ini bernama Putri Keraton. Pemiliknya Muhammad Faizal Affandi, siswa kelas 1 SMU dari Sampang. Faizal (15), adalah pemilik sapi Sonok paling muda yang ikut dalam kontes tahunan ini. Memang sedari kecil, Faizal sudah menyukai budaya sapi Sonok dan itu juga karena warisan dan didikan sang ayah guna menjaga tradisi budaya.Sapi Sonok MaduraSuasana kian semarak. Terlebih lagi setiap peserta membawa rombongan pemusik sronen yang terus memainkan musik mereka masing-masing. Kelompok pemusik pengiring untuk karapan sapi da sapi Sonok ini biasanya dimiliki atau khusus disewa pemilik sapi.

Sebelum kontes di mulai, seluruh peserta sapi Sonok melakukan pawai bersama. Salawi, si mantan jogi karapan yang kini jadi pawang sapi Sonok si Titisan Air Mata juga ikut beraksi.Para pawang mengarahkan sapi berjalan perlahan-lahan sambil menari bersuka. Kontes kecantikan sapi betina kas Madura atau kontes Sapi Sonok tampaknya sudah siap digelar.

Saat Kakinya Naik

Setiap pasangan sapi Sonok akan melewati lapangan yang panjangnya 180 meter. Untuk putaran pertama, arena hanya dilalui oleh dua pasangan sapi Sonok dan pawangnya.Sapi Sonok MaduraTitisan Air Mata, wakil dari Pamekasan akan unjuk kebolehan. Setelah mendapat aba-aba para peserta berjalan perlahan-lahan unjuk kebolehan berjalan anggun lurus kedepan.Sapi-sapi betina ini harus berjalan lurus kedepan dalam waktu 15 menit. Jika sapi mengijak tali pembatas maka akan ada pengurangan nilai sebanyak 5 poin. Di ujung lintasan, sapi-sapi betina yang terlatih baik ini kelihatan berhati-hati saat menaikkan kaki depan.Yang unik bagi mereka yang sudah merasa sapinya banyak melakukan pelanggaran penilaian maka dengan sendirian sang pawang akan menurunkan sapinya duluan sebagai pengakuan kalah.

Liga 2005 sepasang sapi betina yang tadi terkena demam panggung kali ini akan memasuki arena. Sepertinya pasangan sapi betina ini dapat tampil dengan baik. Selain ketepatan berjalan, keserasian saat melangkah juga turut dinilai. Demikian pula dengan kebersihan kuku, tubuh dan kepatuhan pada perintah sang pawang menjadi aspek yang cukup menentukan.Sapi Sonok MaduraSeluruh kontestan yang berjumlah 24, semuanya sudah tampil. Dalam kontes ini ada kategori golongan atas dan golongan bawah. Bagi kontestan yang menang akan masuk babak berikutnya. Begitu juga bagi yang kalah. Lucu juga rasanya, mereka yang kalah masih tetap ada kesempatan bertanding seperti dalam karapan sapi. Kontes masih berlanjut. Kali ini yang maju tiga pasang sapi terbaik.

Para pesiden pun turun panggung. Piala penghargaan akan diserahkan oleh mereka. Semua bersuka menari bergembira. Berbeda dengan karapan sapi, kontes sapi Sonok ini bukanlah ajang untuk mendapat kemenangan.
Semua kontestan memperoleh piala penghargaan. Sebagai apresiasi terhadap pemilik sapi yang sudah merawat dan memelihara sapi-sapinya dengan baik sambil menjaga tradisi budaya.
Budaya sapi Sonok bernilai menjauhkan masyarakat dari unsur penganiayaan terhadap hewan, sekaligus memelihara dari kepunahan. Menjadi sebuah inspirasi penghargaan terhadap hewan di Madura dapat melahirkan kekayaan tradisi budaya. (Sup)

Bukit Geger

September 9, 2009

Bukit GegerBukit Geger berada kurang lebih 30 Km arah tenggara Kota Bangkalan, tepatnya di desa Geger, Kecamatan Geger.
Dari Kota Bangkalan lurus terus ke arah utara yaitu ke arah kecamatan Arosbaya, lalu ke timur kearah kecamatan geger.
Disitulah bukit itu berada. Bukit tersebut mudah dijangkau karena letaknya tepat dipinggir jalan raya.
Bukit ini berada di ketinggian sekitar 150-200 meter diatas permukaan laut.
Obyek wisata ini bagus untuk wisata alam/ wisata hutan, dan biasanya dibuat sebagai lahan bumi perkemahan dan sebagai tempat olahraga pendakian.

Selain KEindahan Wisata Alam/ hutan, Objek wisata bukit geger juga memiliki PAtung Kuno yang dikeramatkan, ada juga Hutan Akasia, Hutan Mahogany, dan hutan Jati seluas 42 hektar lebih, Lembah Palenggiyan dengan keindahan Danau dan Jejeran Sawah yang rapi dan luas, tempat peristirahatan di puncak bukit yaitu Situs Pelanggiran.

Bukit ini juga memiliki 5 (lima) goa legendaris dan amat bersejarah, nama-namanya dalam bahasa madura kurang lebih jika di Indonesiakan seperti dalam kurung yaitu: Goa Petapan (gua tempat semedi), Goa Potre (gua putri), Goa Planangan (gua laki-laki), Goa Pancong Pote (gua pancung putih), dan Goa Olar (gua Ular).

Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.

Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.

Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.

Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.

Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.

Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.

Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. “Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna,” ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.

Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit.Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.

Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.

Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.

Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.

Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.

Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.

Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. “Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna,” ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.

Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit.

Pantai Rongkang

September 9, 2009

pantai rongkang merupakan salah satu tempat wisata di bangkalan. Tempatnya yang masih alami, oleh pohon dan dan bebatuan pantai, membuat pantai ini lebih unik dari pada tempat wisata-wisata lainnya. Namun sayangnya, pantai ini belum dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Padahal keberadaanya sangat signifikan untuk dikunjungi.

Pantai ini berada di Kecamatan Kwanyar dan Posisinya yang ada di pinggir jalan, membuat pantai ini lebih mudah dicapai dengan kendaraan bermotor.

Akses menuju pantai Rongkang mudah sekali, dari jembatan Suramadu tinggal berjalan ke arah timur menuju kecamatan kwanyar kira-kira 10 km. karena letaknya di pinggir jalan raya, anda akan dengan mudah

Pantai Rongkang berada di kecamatan Kwanyar, kira-kira 35 km di selatan kota Bangkalan.
Banyak daya tarik di pantai rongkang ini, diantaranya rangkain bebatuan di sepanjang pantai dan juga bukit berundak-undak yang tingginya sekitar 20 hingga 25 meter di atas permukaan laut.
Pada senja dan malam hari, kilauan sinar dari lampu kapal-kapal yang berlayar di selat madura jadi pemandangan yang sangat menarik dan pantulan sinar-sinar lampu di permukaan air yang memantul dari arah kota Surabaya.
Daya tarik lainnya yaitu buah Jambu Air (baca: Jambu “Kelampok”) yang jadi hasil andalan daerah mereka.

Pantai Siring Kemuning

September 9, 2009

Pantai Siring Kemuning merupakan salah satu objek wisata pantai yang ada diBangkalan. LEtaknya Kurang lebih 45 Km Arah utara Kota Bangkalan, tepatnya di desa Mecajah Kecamatan Tanjung Bumi.

Letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau karena tepat dipinggir jalan raya, membuat pantai ini mudah untuk di kunjungi, baik dengan mobil atau motor.

Keelokan dan keasrian pantai ini sudah teruji. Pasir pantai yang cantik, membuat pantai ini lebih unik lagi. Apalagi sudah ada tempat bermain untuk anak-anak yang ingin menghabiskan masa liburan bersama keluarga.

Namun, karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat, Pantai tersebut seakan masih dibiarkan apa adanya. Masih belum ada investor yang serius menanganinya. Hanya masyarakat setempat yang mungkin sedikit memberikan sentuhan-sentuhan terhadap pantai tersebut. Sehingga bagi wisatawan yang cinta akan Originalitas dan kealamian, Pantai Siring Kemuning ini mungkin cocok sebagai salah satu tujuan wisata pantai.